page

Selasa, 25 September 2012

Gamelan-gamelan kuno

1.      Museum  :  Goong renteng Talaga, degung dan gamelan salendro-pelog Kabupaten
Sumedang, gamelan Sukarame, denggung Kasepuhan, sakati Kasepuhan, dsb.
2.      Rumah     :  Goong renteng Embah Bandong, ajeng Buher, koromong Cikondang,
koromong Cileuweung, goong renteng Situraja, goong renteng Cireundeu, goong renteng Cibeusi, gamelan ajeng Ciangsana, gamelan ajeng Cikamurang, dsb.
3.      Saung      :  Goong renteng Ciwaru.
4.      Pendopo :  gamelan Si Layem Sukapura.

Semua gamelan kuna di Sunda pada umumnya kurang memadai cara perawatan, penyimpanan, dan perlakuannya. Padahal gamelan-gamelan tersebut tiada tara tinggi nilainya sebagai benda sejarah dan budaya masyarakat Sunda, sebab dapat menunjukkan bagaimana derajat peradaban masyarakat pada zamannya. Pada gamelan-gamelan yang dikeramatkan, biasanya pada bulan Mulud dibersihkan (kemudian ditabuh) dan diupacarakan sebagai wujud pengistimewaan (pemuliaan), misalnya pada goong renteng Embah Bandong, goong renteng Ciwaru, ajeng Buher, dan koromong Cikubang. Akan tetapi ada pula yang hanya dibersihkan secara sederhana dan atau hanya menyimpan saja. Cara penyimpanan dan perawatan lainnya bisa diperhatikan misalnya pada ajeng Buher. Dalam beberapa tahun ini, setelah ahli gendingnya meninggal, penclon pelog (bonang) dan wilahan saronnya disimpan di dalam rumah. Dalam kondisi kumuh ancaknya tergeletak di pinggir rumah, kotoran ayam dan entog pun melumurinya. Pewarisnya hanya mampu menyimpan, tetapi merawat mereka tidak mempunyai dana memadai. Lalu, apakah kita tega melihatnya? Penyimpanan bonang dan wilah di dalam rumah ini pun tidak menjamin keamanannya, karena ketika dicek kembali ternyata telah ada beberapa wilah saron, kedemung, dan pelog yang hilang, di samping nadanya yang semakin sumbang. Kemudian pada kasus lainnya, sekarang ini saya juga menginformasikan, bahwa empat buah penclon bonang goong renteng Ngalambang di Sukamulya (Cigugur, Kuningan) telah dicuri orang pada bulan Mei 2005 yang lalu. Saya yakin, empat penclon bonang tersebut tidak akan berguna bagi si pencuri. Si pencuri mencuri benda-benda elektronik yang bernilai jual tinggi di rumah pemilik goong renteng. Benda elektronik dan berharga lainnya inilah pasti yang menjadi tujuan utama pencuriannya. Sedangkan mencuri bonang hanyalah sambil lalu, karena mungkin melihat bonang tergeletak di dekatnya, ya diambil saja. Keempat bonang itu mungkin seterusnya dijual begitu saja ke tukang besi, diloak, dan dilebur bersama besi-besi bekas lainnya. Dengan demikian: musnalah sudah monumen budaya kita. Gamelan ini telah berusia ratusan tahun, dan menurut etnomusikolog Asep Nata—yang pada tahun lalu mengukur nada-nadanya—sangat tinggi mutu pembuatannya. Pagongan sekarang tidak ada yang membuat bonang secara demikian, sangat tipis dan bobotnya sangat ringan, tetapi sangat kuat dan bunyinya bagus. Kalau sekarang telah ada yang mencuri, kemudian siapakah yang dapat menjamin kembalinya empat benda bernilai penting tersebut? Saya pikir, bagi orang yang mengetahui akan makna penting sebuah benda budaya, kejadian ini adalah tragedi dasyat bagi peradaban kesenian Sunda, dan sekaligus memalukan pada sistem pemerhatian dan perawatan kita terhadap benda budaya.

Kita semua seringkali teledor terhadap warisan budaya. Apakah yang terjadi dengan goong renteng Ngalambang akan dibiarkan terjadi pada gamelan lainnya juga? Sangat luar biasa jika kita, masyarakat Sunda, akan selalu tidak merasa rugi melihat kejadian seperti itu. Kapankah kita akan berjaga-jaga menyelamatkan gamelan-gamelan kuna?

1 komentar:

Trixie mengatakan...

fikri blog nya alay, ngeberatin deuih

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews