page

Selasa, 25 September 2012

Bentuk Gamelan


Mengenai bentuk fisik, gamelan di Sunda mengalami berbagai perubahan, tetapi perubahannya tidak signifikan. Sisi perubahannya terjadi sedikit saja dalam hal bentuk fisik penclon dan wilah. Perubahan ini mungkin berkaitan dengan masalah gaya dari pagongan (pagendingan; pagangsaan; besalen)[8] pembuatnya pada masa lalu yang berbeda dengan masa sekarang.

Ancak (tempat meletakkan penclon dan wilah) gamelan juga mempunyai perubahan-perubahan tertentu pada setiap masa. Secara bentuk, ancak gamelan Sunda produk masa lalu kelihatannya sangat memperhatikan aspek-aspek artistik dan pilosofis, sehingga masing-masing gamelan mempunyai dan atau menghasilkan karakter tertentu (di samping karakter yang diakibatkan oleh laras, surupan, dan warna bunyi). Ancak gamelan Sunda sekarang umumnya mempunyai pola bentuk dan ukiran yang relatif sama, sehingga karakter masing-masing gamelan tidak begitu menonjol.

Perkembangan fisik lainnya adalah adanya penambahan wilahan akibat dibuatnya gamelan selap, yaitu laras salendro dan pelog yang disatukan dalam satu ancak. Ini terjadi pada beberapa gamelan, terutama pada grup wayang golek. Dengan penyatuan laras ini maka fisik bentuk gamelan pun menjadi berubah, tetapi tidak praktis secara teknik tabuh.

Pada gamelan degung terdapat pula perubahan-perubahan, misalnya masalah penambahan instrumen musik. Pada umumnya gamelan degung mempunyai bentuk relatif sama, dengan variasi bentuk ancak bonang tipe “V” dan tipe “U”, serta variasi penempatan jenglong secara digantung dan duduk.  Sedangkan dalam hal penggunaan bahan, berbagai macam gamelan masih menggunakan bahan logam perunggu, besi, atau kuningan, sebagaimana pada masa-masa sebelumnya.

Mengenai tempat pembuatan gamelan pada masa kerajaan Sunda, sampai saat ini belum terlacak bekas keberadaannya, tetapi kemungkinan adanya tempat pembuatan gamelan di Sunda masa lampau sangat terbuka, sebab goong (goong kabuyutan; bende kabuyutan; gamelan) pada masa lampau merupakan salah satu regalia kerajaan yang sangat penting dan berfungsi untuk musik kenegaraan. Tempat pembuatan gamelan perunggu di Sunda sekarang sejauh diketahui hanya terdapat di Pancasan (Bogor) dan Cimahi (Bandung). Di Karawang dahulu terdapat tempat pembuatan gamelan perunggu, tetapi sekarang tidak ada, dan yang masih ada sekarang (dalang Sukur) bukan kelanjutan dari pagongan sebelumnya. Penjual-penjual gamelan biasanya membeli penclon dan wilahan selain dari Pancasan dan Cimahi, juga seringkali dari Solo dan Yogya. Dahulu banyak yang membeli dari pagongan Semarang, Kudus, dan Purbalingga. Biasanya mereka hanya membuat ancak dan sedikit melaras nadanya supaya sesuai dengan kebutuhan karawitan Sunda. Akan tetapi sekarang di instansi-instansi pemerintahan di tatar Sunda terdapat beberapa gamelan yang dipakai untuk keperluan karawitan Sunda menggunakan gamelan Jawa tanpa diperbaharui bentuk ancak (dan laras pelog?), sehingga rasa, karakter, dan tampilannya tidak menunjukkan bentuk gamelan Sunda, tetapi tetap gamelan Jawa. Pada gamelan-gamelan masa lalu, yang meskipun mungkin wilah dan penclonnya dibeli dari Jawa, tetapi ancaknya biasanya dibuat menurut selera Sunda dengan berbagai bentuk yang kreatif.

Jika ingin detil, sangat luas sebenarnya untuk memaparkan perubahan-perubahan yang terjadi pada fisik gamelan Sunda. Akan tetapi di sini dapat diinformasikan, bahwa secara umum telah sangat lama belum ada perubahan yang drastis dari masalah bentuk gamelan ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews